Tuesday, February 07, 2006

True Friends and Hypocrisy Part 3

Intisari dari ulasan sebelumnya.

Part 1.
Menurut pemikiran aku, "kemunafikan" muncul karena adanya pertentangan atau kontradiksi antara keinginan hati dan pikiran, bukan karena kehendak dari kedua hal tersebut. Dan bersikap munafik tidak selamanya buruk dan bukan hanya suatu kebohongan besar. Meskipun dalam kamus berbahasa apapun, munafik berarti sifat negative. Tetapi itu semua tergantung dari pemikiran dan dari sisi/sudut mana cara kita memandangnya.

Part 2.
Terkadang bersikap munafik sangat diperlukan dalam hal persahabatan. Karena tidak semua dari segala sikap dan pikiran seorang teman cocok dengan sikap dan pikiran kita. Demi persahabatan, terimalah beberapa hal dari teman yang mungkin itu adalah suatu kelemahan yang tidak perlu diributkan atau diperdebatkan. Biarkanlah berjalan apa adanya dan biarkan jua waktu yang menjawab dan mengatakan yang sesungguhnya. Silence is one of the hardest arguments to refute and the perfect expression of scorn in a relationship, sometimes.

*****************************************

Intro:
Beberapa bulan/minggu/hari belakangan ini, aku bersikap seolah-olah menjadi orang yang sangat munafik. Atau apakah benar aku memang orang yang munafik? Aku rasa tidak. I'm so real. Tapi, ada kebingungan dan kegamangan di hati dalam menilai hal ini. Atau apakah memang semua insan mempunyai bibit sifat munafik dan yang membedakannya hanya kadarnya saja? Seberapa besar kadar kemunafikan yang ada pada diri aku? Who knows...? The God does!

Kalau aku boleh menghakimi dan menilai diri sendiri, aku bukanlah orang yang munafik dan jauh dari sifat itu. Mengapa demikian? Karena aku berpegang teguh pada penilaian seorang teman. Dia mengatakan "kamu tidak bisa menipu aku, semua kesedihanmu bisa terpancar dari mata". Meskipun ada juga teman yang pernah bilang "kamu seorang yang sangat pintar dalam menyembunyikan kegalauan hati". Pernyataan ini tidak berlaku apabila aku dalam keadaan panik yang sangat.

Yah, memang benar adanya. Aku selalu berusaha menyembuyikan kesedihan dengan senyum, tawa dan nyanyian.

Tersenyumlah kepada dunia,
walau hati hancur luluh lantah.
Tertawalah kepada dunia,
walau air mata berderai.
Bernyanyilah kepada dunia,
walau tak ada yang mendengarkan.

Kenapa aku, Anda, kalian atau siapapun perlu menyembunyikan kepedihan atau kesedihan? Jawabannya seperti judul diatas "Munafik Demi Kebahagiaan Orang Lain". Aku beranggapan, orang lain tidak perlu tahu mengenai kesedihan yang aku rasakan, yang perlu mereka tahu bahwa aku sangat bahagia. That's all.

Memperlihatkan kesedihan yang menyangkut hal-hal pribadi kepada orang lain, itu sama saja mengatakan sambil berteriak didepan umum bahwa kita adalah orang yang sangat lemah. Tapi terus terang, aku juga pernah beberapa kali berbuat hal yang demikian, memperlihatkan kesedihan didepan teman dan itu menjadikan inspirasi untuk menulis Blog ini dan menarik kesimpulan bahwa aku termasuk orang yang lemah. Aku tidak mau membela diri dengan mengatakan "aku hanya manusia biasa". Statement ini aku rasa tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, karena aku sudah pernah mengulasnya di Blog sebelumnya dalam judul A Human is Still A Human - Not The Something Something. Tetapi untuk sekedar mengingatkan, pada ulasan tersebut aku menulis...

Intisari dari A Human is Still A Human - Not The Something Something.
Kita adalah manusia biasa dan sampai kapanpun kita tetap menjadi seorang yang "manusia biasa". Anak kecil-pun tahu bahwa kita bukanlah seorang Malaikat, apalagi Tuhan. Seingat aku, aku belum pernah menutupi kesalahan dengan statement "Aku ini hanya manusia biasa", karena kesalahan-kesalahan yang aku perbuat murni hanya dapat dilakukan oleh seorang manusia yang biasa. Tetapi aku tidak menyangkal statement yang mengatakan bahwa manusia tak luput dari kesalahan atau no one can avoid making a mistake. Pada suatu ketika aku mengalami keributan kecil dengan sesesorang dan dia mengatakan "I am just a human being, jadi wajar saja kalau kerjaan ini banyak yang salah". Dan aku berkata "Aku tidak pernah dan tak akan pernah menganggap kamu sebagai seorang Malaikat atau Tuhan, jadi jangan gunakan kata-kata yang stupid itu untuk menutupi kesalahanmu". Terimalah kesalahan sendiri dengan cara manusia, jangan menjadikan kata "manusia" sebagai alasan. Be gentle!

Hmmm... Kembali ke topic semula.
Menyembunyikan kesedihan didepan teman kadang diperlukan agar suasana yang mungkin happy tidak berubah menjadi suasana yang kelam dan suram. Apakah ada penyesalan dalam hati apabila hal itu terjadi? Untuk diri aku sendiri, jelas ada. Tidak memperlihatkan kesedihan didepan teman bukan berarti kita tidak membutuhkan seseorang untuk mencurahkan dan berbagi segala permasalahan yang ada, pernah aku tulis dalam What Can Friends Do To Make You High Part 1 & 2 (Ending). Pada tulisan saat ini aku tidak ingin membahas hal tersebut biar tetap konsisten dengan judul "True Friends and Hypocrisy" dan isi tulisan tidak melebar jauh. Dan cukup sekali saja aku keluar dari topic sebenarnya. Satu - masih dimaafkan, Dua - sudah keterlaluan, Tiga - ada baiknya aku berhenti menulis di WebBlog yang selama ini menjadi hobby yang tersembunyi tapi menyenangkan.

Terkadang juga diperlukan dalam situasi dan kondisi dimana seorang teman, saudara atau siapapun memerlukan seseorang yang dapat men-suppport mereka. Menjadi bunglon mengasyikan juga dan tidak melanggar hukum adat atau UUD 45. Disaat seorang teman yang bersedih dan saat itu juga kita merasakan hal yang sama, menurut aku ini adalah the Golden Time untuk menilai sejauh mana kita dapat bersikap munafik demi kebahagiaan orang lain. Perlihatkanlah wajah yang -I'm all fine- dan berkata "Cheers up" untuk meluluh lantahkan dan meleburkan kesedihan yang ada dihati mereka. Terkadang juga diperlukan dalam keluarga, karena keluarga bisa dibilang terlalu rapuh untuk masalah ini. Keluarga mudah khawatir, risau dan panik apabila ada seorang dalam anggota keluarga yang mengalami kesedihan. Tapi satu hal, bersikap seperti itu bukan berarti suatu sikap yang sok pahlawan. Melainkan untuk mem-balance suatu sikon dimana idealnya ada (+) dan (-). Coba bayangkan apabila relationship hanya ada (-) dan (-), semua sedih dan apa yang akan kita lakukan? Menangisi kepedihan bersama-sama? Sungguh memilukan! Bagaimana antara (+) dan (+)...? Mungkin kita atau dia hanyalah seorang teman biasa, dimana tidak ingin saling tahu mengenai pribadi masing-masing dan hanya menilai dan melihat dari sisi luarnya saja.

Kepedihan dan kemunafikan, dua hal yang sangat kontradiktif tapi dapat disatukan. Kepedihan tersembunyi dibalik kemunafikan. Wajarkah? Menurut aku sangat... sangat wajar, tapi dapat disebut sebagai One of The Ironies of Life. Tapi itu semua tergantung dari sudut mana Anda menilai. Dapatkah seorang True Friend mengetahui bahwa kita sedang dalam kondisi "kemunafikan"? Apakah dia bisa mengetahui dari pribadi kita yang biasanya periang menjadi pendiam? Kalau hal ini dijadikan alasan, sangatlah tidak logis. Sebab setiap orang kadang kala butuh kesendirian. Melalui feeling kah? Bagaimana seseorang dapat membaca apa yang kita rasakan? Adakah media untuk hal tersebut? Bila ada, media apa? Dari pancaran dan sinar mata kah? Mungkin juga, tapi sebuah pandangan bisa berarti berjuta makna. Hati ke hati kah? Bukankah hati ke hati maksudnya berbicara secara langsung dan mengutarakan isi hati masing-masing secara to the point? Dan dalam permasalahan ini kita belum membicarakan kepedihan, kesedihan atau kegalauan yang kita rasakan kepada seorang teman dan masih dalam sikap "kemunafikan".

Bilamana ada seseorang yang dapat membaca kepedihan, kesedihan atau kegalauan yang kita alami meskipun kita menyembunyikan dengan sangat rapat, maka dia pantas mendapat julukan... *TRU3 Friend*. Apapun dan bagaimanapun caranya dia mengetahuinya... Aku hanya bisa bilang, probably it is... A mistery of friendship and in adversity we know our friends.

Why did I spell tru3 friend and not truE friend? In my own book or mind it means... Character, Attitude and Habit. The three kinds of "body languages" that's how you know who your friends are.

.^.The End.^.

*****************************************

(Kamus) Munafik: Suatu sikap yang terlihat suci, senang, suka, benci dan sebagainya, tetapi sebenarnya tidak.

Note: Aku bukan seseorang yang menentang kodrat dari makna atau arti munafik yang sebenarnya. Tapi ini hanya sebuah pandangan dari "wild side" aku mengenai sesuatu hal, dan menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang berbentuk tiga dimensi. Once again, apabila ada yang tersinggung dengan tulisan ini... I'm sorry and I could care less because this article based on my own life story.

3 Comments:

At 1:07 AM, Blogger jacky said...

huaaa....
wah wah...sebagian dari artikel u about True Friends and Hypocrisy Part 3 menurut g agak kurang tepat nich...soal kemunafikan in friendship...g rasa lebih tepat kalo disebut toleransi kita akan sifat dan kelakuan dari teman kita dech...mungkin ada juga seh sikap dari diri kita yang bisa dinilai sebagai munafik....tapi itu tergantung dari situasi dan kondisinya terlebih dahulu..
jadi gak semuanya di state sebagai munafik...
mungkin juga munafik itu untuk pengertian konotasi kata yang bersifat negatif..sedangkan untuk konotasi positifnya kita bisa memilih kata toleransi....
itu aja seh yang mau g komen soal artikel ini...
thx 4 ur attention...

jq_b4nd3l

 
At 5:43 AM, Blogger weetha said...

Jokes, apabila suatu satire merupakan suatu pengalaman pribadi semoga itu tidak menjadikan kita sebagai orang yang pesimis.
Munafik in friendship? dimanakah tolak ukurnya? apa yang menjadi parameternya? ketika kita berada dalam kesedihan, tentunya kita butuh teman untuk bercerita dan berbagi, teman untuk dapat mensupport kita, tetapi apakah ketiadaan support dari teman lalu menjadikannya 'bukan teman', apakah ketika seseorang tidak menunjukkan simpati sesuai dengan yang kita harapkan lalu dia menjadi 'bukan teman sejati'? A tru3 friend is someone who not only can be with you in your good times but also in your bad times, the one who not only give you words to soften your sorrow but the one who can also tell you that you have to get up and move on no matter what and he stands beside you to make sure that u will go on.
Sweet talk bukan berarti munafik, terkadang orang tidak tahu bagaimana mengungkapkan bagaimana mereka bersimpati terhadap orang lain, karena bukan mereka yang merasakan, mereka dalam posisi yang ambigu, what should i do?my friend is in a deep sorrow, what can i do to make him feel better?should i talk to him?or should i just be quite? so many reasons.
One more thing, people have reasons for not showing their sorrows in front of public, dan itu bukan berarti seseorang tersebut munafik, menunjukkan kesedihan pun bukan menjadikan seseorang menjadi cengeng. Tidak ada seorang pun di dunia yang terlepas dari masalah, there's good and bad just like yin and yang as balance, furthermore, I always believe that there's a light in every single sorrow, be blessed for what we had, and for me you are a tru3 friend in you own way :)

 
At 3:58 PM, Anonymous anti trust said...

Semua berkemungkinan Jacky, mungkin disini yang diutarakan adalah defenisi secara umum'

memang bahasa kasarnya adalah munafik dan masih banyak kata kata yang lebih halus untuk digunakan.

bukan sebuah penyetujuan secara khusus namun bisa juga dikatakan :

teman berteman mempunyai teman --> teman mempunyai teman -->> teman --> teman dan teman berteman kemudian teman berteman mempunyai teman'

dengan kata lain semua berkemungkinan untuk bersikap munafik ketika seseorang berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan dengan pandangan yang berbeda dan dari sisi yang berbeda pula'

 

Post a Comment

<< Home